Walaupun ibadah Idul Adha ini hanya dilakukan sekali dalam setahun, namun semangat dan nilai-nilainya tetap dipelihara. Sikap bertauhid beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt dalam situasi dan kondisi apapun seharusnya dipelihara dengan mendayagunakan seluruh potensi diri dalam menunaikan ibadah baik mahdhah (ritual) maupun ghoiru mahdhoh (sosial) secara sempurna. Jika seseorang mampu menjaga hubungan baiknya dengan Allah dan juga dengan sesama manusia, maka akan terkikis sifat sifat negatif seperti permusuhan, ketegangan, kesenjangan, bullying (fitnah), caci maki dan kezhaliman lainnya―baik dalam kehidupan peribadi, keluarga, rmasyarakat, organisasi, politik, berbangsa dan bernegara. Dengan Idul Adha juga akan mendidik setiap individu muslim untuk memaknai bahwa ibadah yang dilakukan hanya kepada Allah SWT haruslah disertai dengan sikap ikhlash, sabar, istiqomah, tawakkal dan mau berkorban.
Di saat yang sama bahwa saudara kita yang saat ini sedang melaksanakan ibadah haji ternyata semua proses manasiknya-pun memiliki filosofi yang sangat dalam untuk kita teladani. Haji merupakan salah satu ibadah yang sarat dengan simbol dan lambang. Oleh karena itu, ibadah haji dilaksanakan harus memahami dan mengerti makna yang tersimpan didalamnya. Keteladanan atas ibadah haji dapat di terapkan baik pada saat pelaksanaan maupun setelah pulang berada dalam kehidupan berinteraksi dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Idul Adha memberi kita beberapa teladan untuk direnungkan:
Pertama, proses perjuangan pencarian untuk bertauhid yang dilakukan Nabi Ibrahim as sangatlah berat. Meskipun pada akhirnya Nabi Ibrahim berhasil bertauhid kepada Allah Rabbul ‘Alamin, Tuhan seru sekalian alam. Tuhan yang senantiasa berada sangat dekat dengan hamba-Nya baik ketika terpejam maupun terjaga, baik saat sempit maupun lapang, baik saat sakit maupun sehat, baik saat terang-terangan maupun sembunyi. Itulah sejarah terbesar yang dipahatkan oleh Nabi Ibrahim as harus selalu dikenang oleh umat beragama. Fragmen ketaatan dan keikhlasannya untuk menyembelih Ismail sebagai anak tercinta yang diidam-idamkannya, adalah bukti kepasrahan total kepada Allah SWT.
Kedua, Perjalanan Nabi Ibrahim as adalah garis kehidupan yang memisahkan antara kehidupan positif dan negatif. Dengan perintah penyembelihan terhadap Ismail sebagai simbol kecintaan duniawi yang kemudian diganti dengan seekor domba merupakan tanda bahwa tidak ada proses perjuangan penyembelihan atau pengorbanan dengan cara mengorbankan dan merugikan sesama manusia, dengan melakukan kezhaliman, seperti permusuhan, pembunuhan, penindasan, korupsi, menyebar fitnah (hoax), adu domba. Karena manusia adalah makhluk mulia dan terhormat yang tidak pantas dikorbankan―karena jelas Allah sendiri yang melarangnya.Dengan Kuasa-Nya, Allah ganti Ismail dengan seekor domba.
Ketiga, untuk meningkatkan jiwa bertauhid, beriman dan bertaqwa. Allah menganjurkan manusia untuk mengingat dan meneladai perjuangan dan kehidupan Ibrahim terutama ketika Nabi Ibrahim as merawat dan merekontruksi Ka’bah sebagai baitullah. Sehingga berbagai ibadah dan ritual peyembahan, kema’rifatan dan ketauhidan kepada Allah SWT menjadi kewajiban bagi umat muslim sedunia yang mampu menjalankan ibadah haji.
Keempat, kepatuhan dan ketaatan jiwa yang bertauhid, beriman dan bertaqwa dengan semangat perjuangan dan berqurban karena Allah, divisualisasikan juga secara simbolik oleh kaum muslimin yang melaksanakan ibadah haji. Aktivitas ibadah haji seluruhnya mencerminkan kepatuhan dan ketaatan.